7 Hal yang Jadi Pemicu Keributan di Awal Pernikahan

7 Hal yang Jadi Pemicu Keributan di Awal Pernikahan

Pernikahan tidak berlalu tepat ketika deretan kalimat akad berlalu diucapkan. Justru ketika itulah suatu lembaga pernikahan mulai dijalankan. Bagi menjalaninya tidak semudah dan seindah yang anda bayangkan. Akan ada tidak sedikit sekali halangan dan rintangan yang siap menantikan di sepanjang perjalanan. Dari mulai masalah kecil sampai masalah-masalah yang besar atau bahkan masalah kecil yang dibesar-besarkan.

Di masa-masa mula menikah, bentrokan biasanya tidak sedikit terjadi sebab hal-hal yang dulunya masih dapat dirahasiakan saat pacaran sekarang sudah tak lagi bisa. Karena itulah masa-masa mula pernikahan jadi titik tolak yang urgen dan dapat memprediksi laksana apa lokasi tinggal tangga tersebut akan berlangsung ke depan. Apa saja hal-hal yang seringkali diributkan di mula pernikahan?

1. Makanan memang keperluan pokok manusia, nggak heran perbedaan selera makan dapat jadi masalah yang utama

7 Hal yang Jadi Pemicu Keributan di Awal Pernikahan
7 Hal yang Jadi Pemicu Keributan di Awal Pernikahan

“Makanannya kok asin banget sih?”
“Aku kan emang suka asin!”
“Terus anda mau masak buat anda sendiri gitu?”

Selera santap setiap orang memang berbeda, tak terkecuali anda yang saling menjalin cinta dan sekarang berumahtangga. Standar asin, manis, pedas, dan rasa-rasa beda tak dapat persis sama untuk masing-masing orang. Salah satu dari kalian mesti mengalah guna menurunkan standarnya. Kalau sama-sama egois ya sudah, pertengkaran nggak akan dapat dihindari.

2. Kebiasaan tidur dapat jadi urusan yang paling mengganggu, barangkali di malam kesatu nanti anda baru bakal tahu

Sebelumnya kalian tak pernah tidur bareng dalam jangka masa-masa yang lama alias semalaman. Jadi anda nggak tahu kebiasaaan buruknya ketika tidur, entah tersebut ngorok, menendang, atau apapun itu. Mulai malam kesatu baru anda akan tahu dan barangkali saja anda akan paling terganggu. Kalau sesekali doang sih nggak papa ya, bila tiap hari kayak gitu terus lama-lama sebal pun kan?- Agen Sbobet Casino PopulerTerpercaya Dan Terbesar 2018 

3. Menikah tidak saja antara dua orang tapi pun dua keluarga, kultur family doi yang bertolak belakang bisa jadi pemicu bentrokan juga

Pasangan muda seringkali masih tidak jarang mondar-mandir ke lokasi tinggal orang tua atau mertua, bahkan bermukim di lokasi tinggal salah satunya. Namanya bukan di lokasi tinggal sendiri tentu ada rasa yang nggak nyaman dan shock culture juga. Misalnya bila di lokasi tinggal sebelumnya anda bebas menyetel TV keras-keras di rumahnya anda nggak bisa. Hal-hal sekecil ini bila tidak dirundingkan dengan baik dapat jadi masalah sebab salah satu pihak merasa tertekan.

4. Meski satu agama, teknik beribadahnya dapat berbeda. Dari situlah dapat muncul polemik yang selesai pada perselisihan

“Harusnya nggak kayak gitu, namun kayak gini. Nggak ada tersebut dalilnya!”
“Kata siapa? kamu tersebut yang nerjemahinnya terlampau tekstual.”
“Aku imamnya, anda ngikut aja!”
“Enggak! aku akan mempercayai apa yang hendak aku yakini!”

Awalnya barangkali kalian masih sungkan guna mengingatkan cara-cara beribadah yang bertolak belakang saat waktu pacaran. Tapi sesudah menikah tanpa sadar kalian hendak saling mengubah kelaziman pasangan cocok dengan apa yang kalian yakini. Kalau kayak gini, pertengkaran tak akan dapat dihindari.

5. Jangan sepelekan standar kerapian pasangan karena tersebut bagian dari jati diri yang susah diubah lagipula dihilangkan

“Mbok ya kalau berakhir bangun istirahat dilipat selimutnya.”
“Mbok ya bila masukin baju ke keranjang cucian yang bener.”
“Mbok ya kalau berakhir makan langsung dicuci.”
“Mbok ya ….”

Kerapian tidak jarang kali menjadi unsur dari jati diri setiap orang. Mereka yang seringkali berantakan akan susah diubah, demikian pula dengan mereka yang telah terbiasa rapi. Jika dua jati diri ini disandingkan barangkali akan timbul tidak sedikit perselisihan sebab persepsi mereka terhadap kerapian jauh berbeda.

6. Seiring berjalannya pernikahan, nilai-nilai kesopanan kian jelas diutarakan. Peraturan yang awalnya nggak terdapat jadi diada-adakan

“Kalau aku masih ngomong tidak boleh langsung pergi seenaknya!”
“Jangan bunyi dong bila lagi ngunyah! Nggak sopan banget sih!”
“Ketawamu tersebut lho, kontrol dikit lah volumenya!”

Cinta memang “tai kucing rasa coklat”, apa yang jelek tidak jarang kali tampak baik bila sedang jatuh cinta. Saat menikah seluruh jadi berbeda, tidak lagi menerima apa adanya namun mengkritisi apa yang ada. Ribut-ribut deh!

7. Hal-hal sepele juga tak luput jadi bahan keributan, alih-alih belajar dari empiris malah dapat berujung perceraian

Alasan mengapa kamu perlu persiapan jasmani dan mental yang kuat guna menikah? Karena pernikahan memang paling kompleks, perlu jiwa-jiwa yang bija dan dewasa guna mengendalikannya. Jika tidak, maka hal-hal yang paling sepel malah dapat berujung pada perceraian bila benar-benar tidak pandai mengendalikan.

Semua pemicu bentrokan ini mesti telah mulai anda pikirkan dari sekarang, mengenai bagaimana usahakan anda bersikap lebih arif dan dewasa di masa depan. Jangan terbiasa menyepelekan permasalahan sebab masalah yang tidak selesai dapat jadi bom masa-masa suatu ketika nanti. Be wise guys!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *